Senin, 28 Maret 2011

Meraih Kebahagiaan, Menaklukkan Kesulitan

Jika hendak memilih pasangan hidup sesungguhnya, lihatlah dirinya ketika menghadapi masalah dan bagaimana cara dia menyelesaikan masalah tersebut. Sebab sosok pribadi yang sesungguhnya terlihat disaat bagaimana dia menyeselesaikan masalahnya. Imam Gazali dalam Ihya `Ulumuddin mengatakan bahwa setiap kali target ditingkatkan maka jalannya menjadi sulit, kendalanya banyak dan dibutuhkan waktu lebih lama, kullama zada al mathlub sho`uba masalikuhu wa katsura `aqabatuhu wa thala zamanuhu. Jadi tingkat kesulitan berhubungan dengan tingkat target. Jika orang ingin sekedar senang dalam hidup, maka ia dapat mencari kesenangan instan, pergi ke tempat hiburan, berfoya-foya dan berpesta pora. Tetapi jika seseorang ingin meraih kebahagiaan, maka ia justru harus siap menderita menghadapi kesulitan, melupakan kesenangan jangka pendek.

Manusia didesain oleh Allah dengan sempurna, memiliki akal sebagai alat berfikir, hati sebagai alat memahami, nurani sebagai alat interospeksi, syahwat sebagai penggerak tingkah laku dan hawa nafsu sebagai tantangan. Kesemuanya itu dirancang untuk menghadapi medan kehidupan yang sulit. Dengan akal manusia bisa memecahkan masalah yang sulit, dengan hati manusia bisa menerima kenyataan yang pahit, dengan nurani manusia bisa mundur selangkah demi memperbaiki diri, dengan syahwat membuat manusia dinamis mencari dan dengan hawa nafsu manusia menjadi tertantang untuk mampu mengendalkan diri.

Manusia di satu sisi memang menyukai stabilitas dan kenyamanan hidup, tetapi di sisi lain manusia juga menyukai kesulitan. Manusia tidak selalu lari dari kesulitan, sebaliknya justru menantang kesulitan. Jika dalam kehidupan sehari-hari hidup selalu stabil dan nyaman tanpa menjumpai kesulitan, maka dibuatlah stimulasi agar orang menaklukkan kesulitan buatan. Mahasiswa berlomba naik tebing buatan (wall climbing), pembalap mobil mencari medan berlumpur, yang berperahu mengikuti arum jeram, setiap agustusan orang ramai-ramai memanjat pohon pinang yang dilumuri olie, yang sudah punya dua kaki justeru berlomba lari dalam karung.

Banyak sekali kesulitan yang sengaja dibuat untuk ditaklukkan, mengapa ? karena manusia memang memiliki tabiat tertantang. Kesulitan buatan pada umumnya hanya melahirkan kesenangan, yakni senang menjadi juara, tetapi belum tentu sampai kepada kebahagiaan. Kesusahan biasanya menambahi kesulitan, tetapi tidak semua kesulitan membuat susah. Ada keindahan dalam kesulitan yaitu disaat kita menyandarkan semua kesulitan kepada Sang Khaliq dan kita bisa meraih kebahagiaan dengan menaklukkan kesulitan.

Selasa, 15 Maret 2011

Senyuman Yang Indah


Senyuman yang indah hadir ketika kita bisa melewati berbagai ujian dan cobaan di dalam hidup ini sebagai wujud rasa syukur kita kepada Allah. Banyak orang yang lulus disaat mendapat ujian dalam penderitaan namun justru gagal ketika diuji dengan anugerah dalam bentuk kekayaan, wajah yang rupawan, kecerdasan yang menyebabkan lalai dan jauh dari Allah sampai kemudian jatuh sakit, begitulah kasih sayang Allah yang senantiasa mengingatkan hambaNya. Bersyukurlah bila kita termasuk orang yang lulus melewati berbagai ujian dan cobaan didalam hidup ini. Sebagaimana seorang pemuda yang datang ke Rumah Amalia. Dibalik anugerah kecerdasan dan pandai bergaul membuat hidupnya begitu mudah meraih impiannya. Begitu lulus kuliah bisa langsung bekerja. Entah bagaimana dari kecil orang tuanya mendidik dan hidup dilingkungan orang-orang yang taat beragama, tiba-tiba dirinya terjerumus ke dalam lembah hina. Godaan hawa nafsu tak mampu dikendalikannya. Imannya benar-benar diuji. Kian hari kian asyik dalam kenikmatan dunia yang semu. Terperosok ke dalam lumpur dosa. Tenggelam dalam kehidupan malam. Pergaulan bebas dan Minuman keras sudah menjadi teman karibnya. Bahkan sholat lima waktu sudah lama tidak pernah lagi dikerjakan. Badannya kurus, wajahnya pucat, tak bergairah dalam menjalankan aktifitas, hidupnya terasa hancur. Setiap malam hatinya selalu cemas & was-was, ketakutan seolah membayangi disetiap langkahnya.

Suatu ketika mendengarkan suara adzan Isyak, membuat hatinya tersiksa.
Merinding bulu romanya. Hatinya terasa hancur bagai tertimpa beban yang berton-ton yang membuat remuk seluruh tulangnya. Air matanya mengalir. Menangis terisak karena hati begitu terasa perih bagai tersayat-sayat, tanpa terasa terucap lirih, 'Astaghfirullah al adzim, Ya Allah Ampunilah hambaMu ini..' Ditengah kondisi tubuhnya yang melemah, di dalam tubuhnya terdapat benjolan ditubuhnya. Benjolan kecil awalnya cuman dua kemudian menjadi empat dan berikutnya delapan. Benjolan itu dibawanya berobat di rumah sakit. Dokter menggelengkan kepala, dipikirnya sejenis kutil namun jenis seperti ini tidak dikenalnya. Air matanya diusapnya berkali-kali. Dalam kondisi hati yang penuh galau, rizki yang selama ini hanya digunakan untuk mencari kenikmatan yang semu, ia bertekad bershodaqoh untuk Rumah Amalia dengan memohon keridhaan Allah.

Kesungguhannya mendekatkan diri kepada Allah, tak lupa menjalankan ibadah sholat lima waktu dan meninggalkan semua kebiasaan buruknya. Beberapa hari kemudian benjolan-benjolan itu mengecil dan menghilang sekalipun masih terlihat bekasnya. Tubuhnya sudah terlihat bugar dan sehat, penuh semangat dalam menjalan aktifitasnya. Semua noda dan dosa yang selama ini melekat dalam tubuhnya seolah rontok. 'Segala Puji Engkau Ya Allah, yang telah menyembuhkan segala penyakit tubuh dan hatiku.' tuturnya dengan penuh air mata yang berlinang.

'Janganlah engkau bersikap lemah & jangan pula bersedih hati, padahal engkaulah orang2 yg paling tinggi derajatnya, jika engkau orang2 yg beriman.' (QS. Ali Imran : 139).

Minggu, 13 Maret 2011

Cinta Yang Menenteramkan

Cinta yang menenteramkan bila cinta kita hanya untuk Allah sebab cinta kepada Allah adalah cinta yang hakiki. Cintailah pasangan hidup kita karena cinta kita kepada Allah. Bila kecintaan kita kepada pasangan melebihi cinta kepada Allah maka ujian akan datang dari orang yang kita cintai, sebagaimana seorang ibu yang telah dua belas tahun mengarungi rumah tangga dirinya mengkayuh dengan susah payahnya. Bangunan rumah tangga diatas pondasi kasih sayang yang rapuh. Pernikahannya penuh dengan pertanyaan yang tiada akhir benarkah dirinya adalah belahan jiwa dari suami yang dicintainya?Ditengah usia yang semakin tua tanpa ada pilihan lainnya yang memaksa dirinya untuk menikah dengan laki-laki yang datang melamarnya. Pernikahanpun dilaksanakan dengan meriah. Kebahagiaanpu hadir.

Ditengah kehidupan dengan mengalirnya waktu, materi dan karier telah mengubah seorang laki-laki. Semenjak bekerja dengan kariernya yang menanjak bagus. Kehidupan rumah tangganya mendadak berubah. Segala bentuk keresahan yang setiap dirasakan betapa ganasnya kota Jakarta menjadi sirna. Segalanya menjadi mudah. Dari menempati rumah kontrakan yang bocor, sering tergenang banjir. Disaat itulah hatinya menjadi sakit dan penuh penderitaan ketika mendapatkan perempuan lain dengan mudah hadir didalam hati suaminya. Justru ketika rumahnya sudah tidak lagi bocor dan tergenang banjir. Rumah besar dan nyaman dibilangan elit di kota jakarta. Suaminya mengakui semua perbuatannya karena telah jatuh cinta pada perempuan lain dan mengaku bahwa hal itu semata-mata khilaf namun hatinya terlanjur terluka.

Ditengah penderitaan ada sebuah kesadaran bahwa apa yang telah terjadi dalam hidupnya seolah membukakan mata hatinya betapa lemahnya manusia dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Disaat saya begitu bangganya kepada suami seolah Allah menyentil saya agar mencintai Allah dengan sepenuh hati. Cinta suami adalah cinta yang ilusi sedangkan cinta kepada Allah adalah cinta yang hakiki.' lanjutnya, air mata itu bagai bendungan yang sudah tidak mampu ditahannya. Mengalir dengan derasnya. Semuanya terhenti disaat anak-anak sedang berdoa.

Dengan berbagi dan berdoa bersama telah menenteramkan dan menyembuhkan luka dihatinya. Nampak wajahnya terurai airmata. Ada sebuah kelegaan sekaligus kedamaian. Tanpa terasa terucap puji syukur kehadirat Allah atas semua anugerahNya dan disaat itulah keikhlasan menerima apapun kesalahan suami mencair di dalam hatinya. Malam itu bersama suami dan anak-anaknya telah menemukan kembali kebahagiaan yang telah lama menghilang.

Rabu, 09 Maret 2011

Pancaran Kebahagiaan

Pancaran kebahagiaan diwajah kita adalah cermin dari hati yang bahagia ketika hidup penuh syukur mendapatkan nikmat dan bersabar dikala mendapatkan ujian. Begitulah yang dirasakan seorang Ibu dengan tiga putrinya. Di dalam hidupnya harus melewati ujian kehidupan yang sebelumnya tidak pernah disadarinya. Setelah pernikahannya dua puluh tahun dikaruniai dengan tiga putri yang sudah beranjak dewasa dikejutkan oleh kenyataan pahit, tiba-tiba suami menggugat cerai. Sampai beliau berpikir, apa yang salah dari dirinya sampai suaminya tega melakukan itu. Beliau sempat depresi, bingung tak tahu apa yang harus dilakukan. Apa lagi sang buah hati mereka sangat mengidolakan ayah dan bundanya. Mesti begitu dirinya tidak membiarkan ketiga putrinya terlihat dalam masalah orang tuanya.

Ketidak mengertian atas sikap suaminya karena selama ini kehidupan rumah tangga sangatlah tenteram dan bahagia, tidak pernah bertengkar dan keributan dan tidak ada alasan yang utama yang bisa dijadikan gugatan cerai oleh suaminya karena selain istri sangat menghormatinya dan tidak ada gelagat atau perilaku yang aneh. Suaminya yang sangat santun dan penuh perhatian pada anak istrinya. Ditengah kegalauannya beliau datang ke Rumah Amalia untuk bershodaqoh & berdoa bersama. 'Syukurlah alhamdulillah, dengan berdoa paling tidak telah membuat hati saya menjadi sejuk, bisa menerima dengan lapang dada, hati yang bersih dan ikhlas dalam menghadapi hidup ini,' tuturnya.

Ditengah dirinya sudah berserah diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mencoba untuk instropeksi diri atas semua kekurangannya. Disaat itulah kebahagiaan itu hadir dan meluluhkan hati suami tercintanya kembali pulang ke rumah dan telah mencabut gugatan cerainya. 'Sungguh Mas Agus Syafii, hati saya sangat bahagia karena Allah telah membuat keluarga kami bisa berkumpul kembali.' tuturnya. Malam itu hatinya penuh kebahagiaan tak henti mengucapkan puji syukur kehadirat Allah. 'Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.' (QS. Faathir : 34).

Jumat, 04 Maret 2011

Indahnya Keharmonisan

Sungguh indahnya bila di dalam keluarga terlihat harmonis. Rukun dan bahagia selalu. Keharmonisan di dalam rumah tangga sangat ditentukan dengan komunikasi diantara anggota keluarga. Belum lama ini ada seorang ibu bersama dua anaknya datang ke Rumah Amalia. Pernikahannya selama delapan tahun dengan suami yang baik dan memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Menurut penuturannya, saking baiknya rumah masih tinggal ngontrak, perabotan seadanya, bahkan tidur dibawah, terima tamu dibawah, semua dibawah karena tidak memiliki meja dan kursi. Jika istri minta dibeliin meja kuri, suami selalu menolak dengan alasan untuk keperluan yang lain. Tetapi jika untuk keperluan temannya yang butuh uang, suami biasanya memberikan dengan mudah.

Pernah kakaknya terkena masalah keuangan, suami mengurusnya, membayar semua hutang kakaknya, entah suami dapat uang dari mana. Awalnya istri bisa menerima tetapi ketika uang sekolah anak terpakai, istri mulai marah dan kecewa. Sudah setahun suami digrogoti oleh ibu dan kakaknya. Semua apapun yang diminta oleh ibu dan kakaknya selalu saja suami mengabulkan. Bahkan ketika istri mengatakan 'tidak.' Ibu mertua marah dan berteriak, menyalahkan dirinya karena menghalangi anaknya berbakti pada ibunya. Padahal ia tidak bermaksud buruk, tetapi bila sudah terus menerus meminta bantuan keuangan, sementara keluarga keteteran, apakah sebagai istri harus diam saja?

Sampai suami kemudian berhenti untuk tidak memberi bantuan kepada Ibu dan kakaknya karena sudah memiliki rasa tanggungjawab kepada keluarga sehingga mampu mengatakan 'tidak' kepada ibu dan kakaknya. Sekarang yang menjadi ganjalan adalah pada dirinya sebagai istri, bukan kepada suami melainkan kepada Ibu mertua dan kakak suaminya. Dirinya menjadi malas berbincang & bertemu dengan ibu mertua. 'Mas Agus, bagaimana saya harus bersikap agar kami sekeluarga kembali hidup tenteram bersama keluarga besar suami?

Saya kemudian menjelaskan padanya bahwa sepatutnya hidup ini disyukurinya. Bersyukur kepada Allah karena dengan adanya berbagai masalah justru suami berperan sebagai penyelamat ibu dan kakaknya dan masalah itu bisa diselesaikan dengan baik. Daripada pikiran hanya tercurah pada ganjalan rasa marah dan kecewa pada mertua yang menghabiskan banyak energi lebih baik memfokuskan untuk upaya mempertahankan keterbukaan komunikasi dengan suami agar suami tidak terhambat untuk bercerita padanya atau meminta pendapatnya tanpa harus merasa berbicara kepada istri hanya akan membuat diri suami menjadi susah. Masalah keuangan di dalam keluarga memang topik yang sensitif untuk banyak pasangan karena sikap adil seorang suami menjadi penting antara kebutuhan untuk rumah tangga dan memberi dukungan keuangan orang tua, saudara atau untuk kepentingan pribadinya sehingga keterbukaan dan komunikasi lebih memudahkan terjadinya kesepakatan bersama.

Termasuk membangun komunikasi dengan keluarga besar suami. Bila tidak ada komunikasi dengan mereka yang terbentuk kemudian adalah prasangka dan opini dan biasanya penuh dengan hal-hal negatif. Sekali waktu berbincang bersama dengan ibu mertua dan kakak ipar di rumah. Keadaan rumah bisa dilihat dengan nyata, agar mengerti kalo rumah masing ngontrak, tidak ada kursi, meja dan yang lebih baik lagi untuk membangun empati. Makin banyak informasi tentang kita, makin realistis gambaran diri kita dipahami oleh orang lain. Makin terbuka diri kita, makin besar peluang untuk merasa dekat satu dengan yang lainnya. Dan dalam proses seperti ini mungkin saja dirinya juga akan menjadi berpandangan yang berbeda tentang ibu mertuanya, yang awalnya kecewa dan marah berubah menjadi sayang dan kasihan ternyata kehidupan ibu mertua memang membutuhkan pertolongan. Saya berharap agar dirinya tidak menghindari bila ibu mertua menghubunginya, hadapi, bicara, dengarkan sehingga suami juga bisa melihat bahwa dirinya punya itikad baik kepada ibunda tercinta, setelah komunikasi dengan suami menjadi lebih baik dengan hilangnya prasangka. Hal inilah yang menjadikan kebahagiaan kembali hadir dalam keluarga. Tidak ada lagi prasangka kepada suami, Ibu mertua, kakak ipar, demikian juga sebaliknya keluarga besar suami juga memahami kondisi batin gejolak hati yang dirasakannya sebagai seorang istri.

Ibu bukan hanya keluar dari depresinya namun juga bisa membangun keharmonisan dalam keluarga. ia bersyukur untuk memahami keadaan suami dan keluarganya serta lebih menyayangi suami & keluarga besarnya. Disisi yang lain dengan adanya masalah dan kesulitan telah membuatnya lebih mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan sabar dan sholat. 'Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat, Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.' (QS. al-Baqarah : 153).

Rabu, 02 Maret 2011

Diguncang Prahara

Dalam kehidupan tidak ada orang yang pernah tahu apa yang akan terjadi dimasa mendatang. Seringkali kita tenggelam dalam kebahagiaan kemudian terhenyak disaat diguncang prahara. Maka disaat itulah mengubah cara pandang seseorang memahami kehidupan. Demikian halnya terjadi pada seorang bapak yang tidak menyadari, karena dianggapnya semua baik-baik saja sampai terjadi perpisahan. kesepian itu hadir setelah perceraian dengan seseorang yang semula diharapkan menjadi teman dalam perjalanan hidup ternyata menimbulkan berbagai perasaan lain yang mengiringinya. Rasa menyesal atas keputusan yang tergesa-gesa hanya terdorong rasa jengkel, marah dan benci, merasa dikhianati oleh perbuatan istri yang dinilai menjatuhkan harga dirinya. Timbul kesulitan demi kesulitan menerpa hidupnya.

Merasa bersalah karena keputusannya telah membuat diri dan anak-anaknya jatuh ke dalam keadaan yang lebih menderita. Pandangan keluarga, masyarakat, problem keuangan dan berbagai pertentangan batin membuat dirinya menjadi lebih tertekan. Namun beruntunglah ketekunannya dalam mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala membuat ia lebih tahan terhadap berbagai derita yang datang dan dalam menghadapi penilaian negatif dari siapapun juga. Justru dalam kesepian dan kesendirian , ia makin mengenal dan menemukan dirinya, makin mengenal hakekat hidup dan berusaha mengisinya dengan hal-hal yang positif bagi dirinya sendiri, bagi anak-anak dan bagi masyarakat sekitarnya. Semua itu tidak diperoleh begitu saja. Tetapi berkat ketekunan dan usahanya mendekatkan diri kepada Allah.

Kesempatan berbagai kegiatan, perkenalan dan berkumpul bersama di Rumah Amalia membuat dirinya semakin menyadari bahwa masih banyak yang bisa dilakukanna untuk kebaikan bagi sesama. Ia menyadari cobaan dan penderitaan di dalam hidup masih akan dijumpainya, namun berharap bisa melewati semua itu sampai saat akhir tiba. Tidak ada lagi rasa benci, dendam dan penyesalan, tidak ada lagi rasa sepi dan sendiri atau tertekan batin seperti dulu lagi. Pada akhirnya derita itu mengubah cara pandangnya dalam memahami kehidupan bahkan lebih mencerahkannya dalam menilai kehidupan. Senantiasa berpikir positif yaitu dengan bersyukur dan bertawakal kepada Allah.

'Katakanlah, 'Apa yang menimpa kami ini telah Allah gariskan. Dialah pelindung kami. Hanya kepada Allah semata, semestinya orang-orang beriman itu bertawakal' (QS. al-Taubah : 51).